Asal-Usul Banyuwangi

5 min read

asal-usul banyuwangi

Cerita asal-usul Banyuwangi – Halo teman-teman semua berjumpa lagi dengan fatasama. Pada kesempatan kali ini fatasama akan menulis cerita tentang asal-usul Kota Banyuwangi.

Legenda asl-usul Kota Banyuwangi ini merupakan cerita rakyat Indonesia yang berasal dari daerah Jawa Timur.

Di beri nama Banyuwangi ternyata pemberian namannya tidak asal nama loh!. Namun ada sebab asal-usul yang terjadi sebelum nama Banyuwangi di sematkan.

Banyak legenda yang menceritakan tentang dongeng asal-usul Kota Banyuwangi ini dalam versinya masing-masing.

Bahkan seiring dengan kemajuan zaman dongeng asal-usul Kota Banyuwangi banyak di adaptasi menjadi karya digital baik dari film, animasi dan lain sebagainya.

Hal ini juga merupakan salah satu bentuk pengharggan anak bangsa terhadap kekayaan sejarah dan kebudayaan yang kita miliki bersama.

Nah mari kita simak kisahnya berikut ini.

Asal-usul Banyuwangi

Pada zaman dahulu kala di Pulau Jawa bagian timur terdapat sebuah kerajaan yang di pimpin oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana.

Raja memiliki seorang putra bernama Raden Banterang, Raden Banterang gemar sekali berburu di hutan.

Suatu hari ia berburu di hutan. Hewan buruan favoritnya adalah rusa. Hari itu ia bertemu rusa yang cukup gesit.

RadenBanterang di buatnya terpisah dari para pengawalnya. Rusa itu berlari sangat kencang semakin masuk ke dalam hutan lebat.

Raden Banterang yang mengikuti rusa itu semakin dalam ke hutan hanya menemui jalan buntu. Hari itu ia tidak menemukan apapun.

RadenBanterang yang mulai kelelahan beristirahat di pinggir sungai untuk membasuh wajah. Ketika ia sedang membasuh wajah tiba-tiba seorang wanita cantik menghampirinya.

Ia sedikit terkejut. Karena di tengah hutan ada seorang wanita cantik dengan pakian yang bagus.

Wanita Cantik di Tengah Hutan

“Hei, siapa kamu?, apakah kamu roh penjaga hutan ini?” Tanya Raja Banterang dengan sedikit menjaga jarak.

“Bukan, Raden saya adalah manusia, namaku adalah Surati, aku adalah seorang yang sedang dalam pelarian.” Ujar wanita misterius itu.

“Aku adalah anak dari seorang raja dari sebuah kerajaan. Di sana sedang terjadi perang dan Kerajaan kami berhasil di kalahkan.” Ujar gadis misterius itu lagi.

Raden Banterang terdiam sejenak. “Baiklah, ikutlah bersamaku!”, Raden Banterang membawanya pulang bersama rombongan kerajaan.

Surati memiliki paras yang cantik jelita, suatu hari Raden Banterang tertarik kepada Surati dan ingin melamarnya. Akhirnya merekapun menikah.

Baca juga :

Bertemu Kakak

Suatu hari Surati sedang berjalan-jalan di luar istana kerajaan sendirian. Dari kejauhan seseorang denga pakaian compang-camping membuntuti Surati.

“Surati…Surati!” Suara seorang lelaki memanggilnya dari kejauhan. Surati merasa sangat familiar dengan suara orang tersebut.

Dan benar saja, seorang pemuda dengan pakaian compang-camping menggunakan caping berjalan mendekat ke arahnya.

“Surati, masih ingatkah kau denganku?” Pria itu melepaskan caping di kepalanya. Surati sedikit terkejut. Ia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.

“Rupaksa, benarkah ini dirimu?, kau masih hidup?, syukurlah!” Rupaksa adalah kakak kandung Surati yang di kira sudah tewas ketika Kerajaan Kelungkung di serang.

Niat Rupaksa menemuinya sebenarnya adalah untuk membalaskan dendam karena orang-orang dari kerajaan Raden Banterang sudah menghancurkan kerajaanya dan membunuh ayah mereka berdua.

Namun rupanya Surati sudaah tidak memiliki keinginan untuk balas dendam. Mendengar hal itu Rupaksa sangat marah.

“Apa yang terjadi denganmu Surati?, ayah kita di bunuh oleh orang-orang dari kerajaan ini?, bagaimana perasaanmu?” Rupaksa memarahi Surati.

“Bagaimana bisa kau hidup tenang dengan orang-orang yang telah menghancurkan kerajaan kita dan membunuh ayah kita!” Ujarnya lagi.

Surati hanya terdiam dan tidak menjawab perkataan sang kakak, Rupaksa.

Dari kejauhan rombongan pengawal mendekat ke arah Surati. Menyadari hal itu Rupaksa tidak kehabisan akal.

“Baiklah adiku, aku sangat mengerti sekali kau benci dengan peperangan. Satu saja permintaanku, tolong terimalah ini!” Rupaksa menyodorkan ikat kepala yang di kenakannya.

“Aku tidak tahu, apakah kita akan bertemu lagi. Tolong simpan ikat kepala ini di bawah tempat tidurmu. Anggap saja ini sebagai kenang-kenangan dariku.”

Surati menerimanya dengan mata berkaca-kaca. Rupaksa segera berjalan mengenakan capingnya kembali dan menjauh dari Surati.

Tidak berselang lama sekelompok kecil pengawal menghampiri Surati.

“Tuan putri kemana saja, apakah terjadi sesuatu pada anda?” Tanya seorang perajurit.

“Aku hanya berkeliling di sekitar sini, kalian tidak perlu mengkhawatirkanku!” Ujar Surati sambil tersenyum.

Surati pulang ke istana dan menuruti seperti apa yang Rupaksa minta. Ia menaruh ikat kepala rupaksa di bawah tempat tidurnya.

Pertemuannya dengan Rupaksa hari itu tidak di ketahui oleh siapapun termasuk Raden Banterang. Iapun juga tidak bercerita apapun tentang pertemuan itu.

Bertemu Lelaki Misterius

Suatu hari Raden Banterang kembali berburu ke hutan seperti biasanya. Namun kali ini perjalanannya terhenti  karena ada sorang pria yang menghalanginya.

“Mohon maafkan saya yang hanya rakyat jelat ini menghalangi perjalanan Raden!” Ujar seorang pria dengan menggunakan pakaian compang-camping dengan caping di kepalanya.

“Ada suatu hal yang sangat peting yang ingin saya beri tahukan Raden!” Ujar pria misterius itu lagi.

“Apa yang ingin kau sampaikan kisanak?” Tanya Raden Banterang.

“Ini menyangkut keamanan anda, Raden!”

“Apa maksudmu kisanak?”

“Mohon maaf Raden, hamba memiliki penglihatan, bahwa istri Raden merencanakan pembunuhan terhadap diri anda Raden!”

“Kisanak, jangan asal bicara kau, lancang sekali!” Raden Banterang mulai sedikit emosi.

“Jika Raden menganggap saya adalah pembohong dengarkan pesan saya Raden. Di bawah tempat tidur Raden ada sebuah ikat kepala milik pembunuh yang bersekongkol dengan istri anda.”

“Memang aku tidak akan mudah percaya dengan perkataanmu, kisanak!, jika benar apa yang kau katakan kau akan selamat!” Ujar Raden Banterang.

“Namun jika ternyata semua hanya lelucon kau akan kukejar sampai ke ujung duniapun dan memberimu pelajaran”. Ujarnya lagi.

Lelaki misterius itu hanya terdiam tidak menjawab sepatah katapun.

Baca juga :

Ikat Kepala

Raden Banterang yang sudah ada  di pertengahan jalan segera putar bali dengan rombongannya ke Kerajaan.

Sejenak Raden Banterang menoleh ke belakang dan ia sudah tidak melihat pemuda misterius itu lagi.

Fikirannya mulai was-was dengan apa yang di katakan oleh lelaki misterius itu. Ia segera memacu kudanya semakin cepat.

Raden Banterang yang sudah sampai di istana segera berjala dengan cepat menuju kedalam kamarnya dan memastikan apa yang di katakan oleh lelaki misterius tadi.

“Ada apa kakanda pulang secepat ini tidak biasanya!” Tanya Surati. Raden Banterang tidak menjawab.

Ia memeriksa tempat tidur mereka. Betapa terkejutnya ketika ia mendapati sebuah ikat kepala di bawah tempat tidur mereka.

“Surati!” Teriak Raden Banterang dari dalam kamar. Ia segera berlari kearah kamar.

“Apa-apaan ini?” Raden Banterang memegang ikat kepala yang di berikan oleh Rupaksa, kakak kandung Surati.

“Mengapa kau ingin membunuhku?, Inikah balasan yang kuterima setelah aku memberimu perlindungan?” Ujar Raden Banterang dengan murka.

“Bukan begitu Kanda, kau salah paham. Tidak mungkin aku melakukan hal buruk seperti itu , kanda”. Ujar Surati.

“Kau tidak usah mengelak lagi, aku tidak habis pikir bagaimana wanita yang sudah aku anggap baik namun ternyata ingin menusukku dari belakang! ” Ujar Raden Banterang.

Ia sama sekali tidak menggubris perkataan Surati. Bahkan ia berniat akan menghukum wanita yang telah menjadi istrinya tersebut.

Surati sangat sedih. Raden Banterang sama sekali tidak menggubris perkataannya. Raden Banterang membawa istrinya itu ke sungai.

Hari itu Raden Banterang mengumumkan ke kalangan masyarakat kerajaan bahwa ada seorang penghianat di kerajaan yang berusaha membunuhnya.

Di ikuti oleh banyak masyarakat Surati di bawa ke tepian sungai yang beraliran deras, Raden Banterang berencana melemparnya ke sungai.

Namun sebelum itu Surati meminta sedikit waktu untuk menjelaskan kepada Raden Banterang. Ia menceriatakan semuanya. Prihal siapa lelaki yang memberikan ikat kepala tersebut.

“Jika kakanda bertemu dengan orang dengan baju compang-camping dan meberikan kabar ini, maka dia adalah kakak kandung adinda, kanda. Namanya Rupaksa. ” Ujar Surati.

“Ia sangat dendam kepada kerajaan ini karena pasukan dari kerajaan ini telah membunuh Raja Kelugkung ayah kami berdua!” asal-usul Banyuwangi

Rakyat yang berkerumun di sekitar menjadi terkejut dengan pengakuan Surati yang ternyata adalah anak dari Raja Kelungkung. Begitu pula Raden Banterang.

Raden Banterang teringat dengan lelaki misterius yang memberinya kabar tersebut. Surati mencoba meyakinkan Raden Banterang. Namun Raden Banterang tetap tidak percaya.

“Aku tidak percaya dengan ucapanmu!” Raden Banterang kerasa kepala. Surati hanya menangis pasrah.

“Baiklah kanda jika kau tidak percaya denganku apa boleh buat!”. Surati berjalan semakin mendekat ke arah  sungai.

“Kanda, aku menikah denganmu karena tulus mencintaimu, tidak ada maksud lainnya.”

“Sedari dulu aku sangat membenci peperangan, aku tidak ingin terjadi peperangan.”

“Kanda, jika kau tidak mau mendengarkan kataku tak apa. Tapi ingatlah satu hal, Aku sangat mencintaimu!”

“Kanda, dari pada dinda hidup dalam ketidak percayaan seluruh masyarakat, dinda rela mati.”

“Ketahilah jika nanti setelah kematianku air di sungai yang keruh ini menjadi bening dan wangi maka aku tidak bersalah, dan sebaliknya jika aku berdusta maka airnya akan tetap keruh dan berbau busuk!”

Semua mata tertuju pada Surati yang sudah berada di tepian sungai dan bersiap akan melompat. Raden Banterang hanya terdiam.

Beberapa saat kemudian Surati melompat dari dalam arus sungai yang deras. asal-usul Banyuwangi

Hal ajaib terjadi. Dalam sekejap tiba-tiba air sungai perlahan menjadi jernih dan berbau harum semerbak.

Kejadian ajaib itu di saksikan oleh Raden Banterang dan seluruh rakyatnya yang hadir kala itu.

Melihat hal tersebut Raden Banterang sangat menyesal karena tidak mempercayai wanita yang telah menjadi istrinya itu. Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi.

Masyarakat yang melihatnya kala itu berkata “Banyu ne wangi” yang dalam Bahasa Jawa, Banyu = air, wangi = harum. asal-usul Banyuwangi

Atau yang sekarang kita kenal dengan istilah “Banyuwangi”. Begitulah asal-usul kata Banyuwangi

Semenjak saat itu Nama Banyuwangi di jadikan nama dari wilayah tersebut hingga sekarang.

Baca juga : asal-usul Banyuwangi

Pelajaran Moral dari Cerita Asal-Usul Banyuwangi

  1. Jangan langsung percaya dengan apa yang di katakan oleh orang lain.
  2. Jangan mudah berprasangka buruk dengan orang lain. asal-usul Banyuwangi

Penutup

Nah itu tadi merupakan cerita rakyat Indonesia yang menceritakan tentang asal-usul Banyuwangi. Sekian dulu ya, cerita rakyat asal-usul kota Banyuwangi. Sampai bertemu di pembahasan cerita rakyat berikutnya.

Asal Usul Reog Ponorogo

akbar fattah
7 min read

Legenda Danau Toba

akbar fattah
5 min read

Cerita Ande Ande Lumut

akbar fattah
8 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.