Cerita Sangkuriang

8 min read

sangkuriang

Cerita Sangkuriang – Halo teman-teman berjumpa lagi dengan fatasama. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai cerita rakyat Jawa Barat yang berjudul Cerita Sangkuriang.

Cerita Sangkuriang bisa juga di kenal dengan beberapa nama kisah diantaranya seperti Dayang Sumbi, Legenda Tangkuban Perahu maupun Sejarah Tangkuban Perahu.

Judul-judul tersebut biasanya yang biasanya banyak di gunakan pada cerita Sangkuriang. Isi ceritanya kurang lebih juga sama.

Saat ini  Gunung Tangkuban Perahu menjadi salah satu destinasi wisata di Bandung Jawa Barat. Tepatnya di Lembang.

Baiklah guys langsung saja kita simak baik-baik cerita Sangkuriang berikut ini.

Dewa dan Dewi di Kahyangan Melakukan Kesalahan

Pada zaman dahulu di kahyangan ada dua orang Dewa dan Dewi yang melakukan kesalahan. Akibatnya keduanya harus di buang dari kahyangan ke dunia.

Untuk menebus kesalahannya mereka berdua di kutuk menjadi babi hutan dan seekor anjing.

Dewa yang menjelma menjadi anjing bernama Tumang. Ia mengabdi pada seorang Raja bernama Prabu Perbangkara.

Sedangkan Sang Dewi yang menjelma menjadi Babi hutan bernama Wayung Hyang.

Untuk menebus kesalahannya Wayung Hyang harus berbuat baik di hutan.

Suatu hari Prabu Perbangkara pergi berburu ke hutan. Kebetulan lokasi berburu Prabu Perbangkara dekat dengan tempat tinggal Wayung Hyang tinggal.

Prabu Perbangkara yang sudah berburu seharian merasa ingin buang air kecil.

Prabu Perbangkara buang air kecil di balik pohon. Setelah itu mereka melanjutkan kegiatan berburunya.

Di sisi lain dari dalam hutan seekora babi hutan betina jelmaan Dewi Wayung Hyang kehausan mencari air.

Kebetulan di depannya ada air di dalam sebuah batok kelapa yang ternyata adalah air kecing Prabu Perbangkara.

Karena sudah kehausan akhirnya ia meminum air kecing Prabu Perbangkara yang tertampung di batok kelapa.

Namun suatu hal ajaib terjadi. Beberapa waktu kemudian babi hutan jelmaan Dewi Wayung Hyang ini menjadi hamil.

Beberapa waktu kemudian ia melahirkan seorang bayi berwujud manusia perempuan.

Hari itu bertepatan juga dengan hari berburunya Prabu Perbangkara kembali ke hutan.

Di kejauhan semak-semak samar-samar terdengar tangisan seorang bayi. Tumang mengonggong.

Prabu Perbangkara yang mendengar suara tangisan bayi segera berlari ke arah sumber suara.

Tumang segera berlari mendahului tuannya. Tumang menggonggong keras di sekitar bayi perempuan itu.

Sesampainya di tempat di temukannya bayi perempuan itu Prabu Perbangkara langsung menggendong bayi wanita itu.

“Bayi siapa ini?”, Tanya Prabu Perbangkara kepada para pengawalnya. Mereka hanya terdiam.

Akhirnya Prabu Perbangkara mengakhiri acara berburunya. Ia sangat gambira karena menemukan bayi cantik itu.

Bayi cantik  dan menggemaskan itu di beri nama Dayang Sumbi. Ia diasuh oleh keluarga Raja Prabu Perbangkara hingga ia dewasa.

Dayang Sumbi tumbuh dewasa menjadi seorang putri yang memiliki paras yang cantik luar biasa.

Bahkan konon kecantikannya terdengar hingga ke kerajaan tetangga.

Bahkan banyak raja dan pangeran dari berbagai kerajaan tetangga yang memerebutkan Dayang Sumbi untuk di jadikan selir ataupun permaisuri.

Demi memperebutkan Dayang Sumbi tidak jarang berakhir pada sebuah peperangan.

Melihat hal ini Dayang Sumbi merasa sangat terganggu dengan keadaan ini

Untuk mengatasi hal ini Dayang Sumbi meminta kepada ayahnya, Prabu Perbangkara untuk hidup menyendiri di hutan.

Karena melihat situasi menjadi semakin gawat di karenakan memperebutkan Dayang Sumbi ayahnya memberikan izin untuk tinggal dan menyendiri di sebuah pondok di tepi  hutan.

Prabu Perbangkara sangat sayang dengan putrinya itu. Bahkan ia menawarkan pengawalan di pondok tersebut namun Dayang Sumbi menolak secara halus.

Ia ingin hidup tenang sebagaimana rakyat jelata tanpa ada yang mengetahui identitasnya yang sebenarnya.

Karena keinginan Dayang Sumbi teguh akhirnya Prabu Perbangkara hanya menyuruh Si Tumang anjing kesayangannya untuk menemani Dayang Sumbi.

Akhirnya mereka berangkan ke pondok tepian hutan hanya di antar sampai tujuan oleh beberapa prajurit lalu mereka meninggalkannya bersama Si Tumang.

Baca Juga :

Si Tumang

Dayang Sumbi sangat menikmati kehidupan barunya di pondok di tepi hutan. Aktivitas sehari-harinya hanyalah menenun.

Hidup Dayang Sumbi sangatlah nyaman karena setiap pekan ada prajurit yang bertugas mengantarkan suplai makanan dan pakaian untuk Dayang Sumbi.

Suatu hari ketika sedang menenun di sebuah bale-bale pondokan. ada salah satu alat tenunnya yang tidak saengaja terjatuh ke tanah. Kebetulan saat itu Dayang Sumbi sedang mager.

Lalu spontan ia bersumpah akan menikahi siapa saja yang mengambilkan alat tenunnya yang terjatuh. Tidak di sangka ternyata yang mengambilkannya adalah Si Tumang.

Sumpah yang di ucapkan tidak bisa di tarik kembali. Demi memenuhi sumpah yang telah di ucapkannya ia akhirnya menikahi Si Tumang. Ia Si Tumang anjing Prabu Perbangkara.

Dayang Sumbi Mengandung

Suatau hari Prabu Perbangkara sangatlah murka setelah mengetahui jika Dayang Sumbi hamil.

Ketika di tanya siapa bapaknya ia hanya menjawab bahwa ia telah menikahi Si Tumang.

Mendengar hal itu Prabu Perbangkara semakin meradang. “Jangan mengada-ada kau Dayang Sumbi!, Apakah kau sudah gila?” Bentak Prabu Perbangkara.

“Sungguh ayahanda Sumbi tidak mengada-ada.” Jawabnya dengan nada lirih dengan raut wajah ketakutan.

“Ini sangat tidak masuk akal!”, Bentak Prabu Perbangkara lagi.

Sang Raja yang malu akhirnya mengasingkan Dayang Sumbi ke pondok di tepian hutan namun kini suplai makanan di hentikan.

Namun ada yang di sembunyikan oleh Dayang Sumbi kepada ayahnya. Si Tumang merupakan anjing jelmaan Dewa.

Di kala bulan purnama bersinar Si Tumang bisa berubah menjadi sesosok lelaki tampan dan gagah.

Namun itu semua tidak ia ceritakan kepada ayahandanya, karena ia tahu jika ia menceritakannya pasti akan di anggap lebih sinting oleh ayahnya.

Cerita Sangkuriang

Sembilan bulan telah berlalu, Dayang Sumbi melahirkan seorang anak laki-laki yang sangat tampan. Mirip seperti Si Tumang ketika berubah menjadi manusia.

Dayang Sumbi memberinya nama Sangkuriang. Seorang anak laki-laki yang tumbuh menjadi seorang anak yang tangkas.

Sangkuriang yang semakin besar memiliki kegemaran berburu. Ia sangat mahir dalam hal berburu.

Suatu hari Dayang Sumbi sangat ingin makan hati rusa. Dengan senang hari Sangkuriang berangkat berburu ke dalam hutan di teman oleh Si Tumang.

Namun sangat di sayangkan setalah seharian berburu rusa yang di cari-cari tidak kunjung di dapatkan. Untuk menggantinya ia berburu babi hutan.

Keika sedang mencari hewan buruannya ia meliha seekor babi hutan sedang melintas.

Ia memerintahkan Si Tumang untuk mengejarnya. Si Tumang dengan gesit segera mengejar babi hutan.

Alangkah terkejutnya Si Tumang ternyata babi yang ia buru adalah babi hutan jelmaan Dewi Wayung Hyang.

Si Tumang segera menjauh dan melepaskan babi hutan jelmaan Dewi tersebut. Si Tumang hanya terdiam menatap tuannya. Sangkuriang memarahinya.

Hati Si Tumang

“Tumang, apa yang kau lakukan?, kau melepaskan jatah makan kita untuk beberapa hari kedepan!”, Bentak Sangkuriang. Sentara Si Tumang hanya diam dan menunduk.

Bahkan Sangkuriang juga mengancam dengan mengarahkan panahnya ke arah Tumang untuk menakutinya.

Tapi naas, tangan yang memegang anak panah terlepas. Segera anak panah melesat kencang dari busurnya mengenai Tumang tepat di jantung.

Sangkuriang sangat terkejut. Ia merasa sangat bersalah. Bagaimana bisa ia membunuh anjing kesayangan ibunya yang bahkan sudah ada sejak sebelum ia di lahirkan.

Akhirnya dengan perasaan bercampur-campur ia mengambil hati Si Tumang untuk di bawa pulang.

Sesampainya di rumah ia memberikan daging tersebut kepada Dayang Sumbi.

Namun hari itu tidak biasanya Sangkuriang sangat riang. Kini air mukanya seperti menyembunyikan sesuatu.

Dayang Sumbi yang hari itu sedang senang masih belum menyadari jika daging hati yang dia makan bersama Sangkuriang merupakan hati Si Tumang.

Setelah keduanya memakan daging hati tersebut Dayang Sumbi menanyakan keberadaan Si Tumang yang belum terlihat semenjak Sangkuriang pulang berburu.

Sangkuriang yang masih polos dengan jujur ia mengaku bahwa ia tidak sengaja membunuhnya.

Dia juga mengatakan bahwa ia telah berburu seharian dan tidak mendapatkan rusa sekalipun.

Ketika ia mencarikan penggantinya berburu babi hutan anak panahnya tidak sengaja mengenai Si Tumang.

Mendengar hal itu mendadak wajah Dayang Sumbi memerah. Air mata meleleh di pipinya.

“Apa yang kau lakukan Sangkuriang?, Si Tumang adalah ayahmu. Kau telah membunuh ayah kandungmu sendiri!”

Di ambillah sebuah centong nasi lalu ia memukul kepala Sangkuriang hingga berdarah.

“Ampun bu, Sangkuriang tidak tau.” Sangkuriang yang masih belum mengerti segera berlari meninggalkan pondok tempat di mana mereka berdua tinggal sambil menangis sejadi-jadinya.

Menyadari bahwa ia telah melukai anak semata wayangnya ia sangat menyesal, namun terlambat.

Sangkuriang sudah menghilang di balik rerimbunan hutan.

Untuk meredam perasaan sedihnya Dayang Sumbi bertapa dari pertapaannya Dayang Sumbi memiliki anugrah berupa umur panjang dan awet muda.

Baca Juga :

Pengembaraan Sangkuriang

Sangkuriang yang sebelumnya berlari masuk keluar hutan dengan kepala berdarah segera pingsan di tengah jalan.

Ketika ia tersadar, ia sudah berada di sebuah gubuk tua. Samar-samar ia melihat bayangan kakek tua sedang mengobati lukanya.

“Akhirnya kamu bangun juga bocah!” ujar kakek tua.

“D…Di mana aku?, kakek siapa?” ujar Sangkuriang panik.

“Tenanglah dulu bocah jangan bergerak lukamu masih basah!” ujar kakek tua. Sangkuriang hanya terdiam.

“Apa yang terjadi denganmu bocah?, mana orang tuamu? Apa kau baru saja di rampok? Tapi kelihatannya kau bukan kaum bangsawan.”

“Aku tidak ingat apapun, kek!” Sangkuriang membuka cerita. Sangkuriang lupa ingatan setelah kepalanya di pukul oleh Dayang Sumbi.

Singkat cerita Sangkuriang berguru kepada banyak orang sakti. Sangkuriang tumbuh menjadi sosok pria tampan yang gagah dan sakti.

Ia sudah banyak keluar masuk hutan dan banyak menakhlukan makhluk buas di dalam hutan beserta bangsa lelembut. Mereka tunduk kepada Sangkuriang berkat kesaktiannya.

Namanya juga sudah tersohor di mana-mana karena memiliki kesaktian yang hebat disamping itu ia juga tampan dan gagah.

Cerita tentang sangkuriang sudah banyak tersebar dari kampung ke kampung. Namanya semakin tersohor.

Pertemuan dengan Dayang Sumbi

Suatu hari di dalam perjalanannya Sangkuriang bertemu dengan seorang wanita yang cantik rupawan. Siapa lagi kalau bukan Dayang Sumbi.

Pertama kali saling melihat mereka berdua sama-sama saling jatuh cinta.

Namun Dayang Sumbi tidak menyadari jika lelaki tampan itu adalah anaknya sendiri.

Dayang Sumbi terpesona dengan ketampanan Sangkuriang. Begitu pula sebaliknya.

Karena merasa rasa cintanya di sambut Sangkuriang berniat menikahi Dayang Sumbi, dengan senang hati Dayang Sumbi menerimanya.

Suatu hari ketika mereka sedang berduaan di sebuah bukit, Sangkuriang berebahan di pangkuan Dayang Sumbi.

Ketika Dayang Sumbi menyisir rambut Sangkuriang ia terdiam sejenak.

Ia teringat cerita ketika masih kecil ia pernah memukul Sangkuriang di bagian kepala.

Ia jelas sekali melihat bekas luka itu. Namun kala itu Dayang Sumbi mulai penasaran dan mulai bertanya dari mana luka itu ia dapatkan.

Sangkuriang tidak ingat dari mana ia dapatkan luka di kepalanya yang di ingatnya hanyalah ketika kecil kepalanya terluka lalu di selamatkan oleh kakek baik hati.

Baca Juga :

Kenyataan Yang Pahit

Dayang sumbi menghela nafas panjang. Wajahnya kini nampak lebih tegang.

Ia mencoba menjelaskan jika Sangkuriang adalah anaknya. Dan ia adalah ibu kandungnya.

Sangkuriang menolak percaya dengan apa yang di katakan Dayang Sumbi.

“Tidak mungkin kau ibuku. Jika kau benar-benar ibuku pasti kau sudah tua!” Sangkuriang Menyangkal.

“Ooh, atau sudah ada laki-laki lain?”, Ujarnya lagi. Cerita sangkuriang.

“Dengarkan aku Sangkuriang. Aku adalah ibumu, dan kau adalah anaku!”

Sangkuriang yang sudah di mabuk cinta sudah kehilangan akal sehatnya.

Untuk menghindari konflik yang lebih buruk akhirnya Dayang Sumbi berusaha menolak dengan halus.

Di dalam cerita, Sangkuriang di berikan syarat agar membuat danau lengkap dengan perahunya dalam satu malam. Itulah syarat dari Dayang Sumbi jika ingin menikahinya.

Dayang Sumbi berfikir bahwa dengan memberikan syarat tersebut Sangkuriang akan mundur.

Namun ternyata ia salah. Cerita sangkuriang.

Karena cintanya kepada Dayang Sumbi sudah sangat besar Sangkuriang menyanggupi syarat mustahil tersebut.

Sejarah Tangkuban Perahu

Di suatu malam di sebuah tanah lapang Sangkuriang memanggil seluruh bala bantuannya dari bangsa lelembut.

Sangkuriang memerintahkan mereka untuk membantunya membuat danau dalam satu malam.

Malam itu mereka segera mulai bekerja. Pertama-tama Sangkuriang mulai menebang pohon di hutan dengan skala besar.

Bekas penebangan lahannya kini bisa kenal dengan nama Gunung Bukit Tunggul.

Sementara potongan ranting, dahan dan ranting yang tidak terpakai di tumpuk saking banyaknya menjadi Gunung Burangrang.

Dalam waktu separuh malah perahu sudah selesai pengerjaannya. Selanjutnya ia dan bala tentara lelembutnya mulai membuat danau.

Dayang Sumbi yang mnengawasi dari kejauhan di buatnya panik, karena syarat yang di ajukannya perlahan mulai terwujud.

Melihat hal itu Dayang Sumbi tidak tinggal diam. Di dalam cerita, Dayang Sumbi berdoa kepada Sang Hyang Tunggal untuk mengagalkan usaha Sangkuriang.

Permohonan Dayang Sumbi di kabulkan. Ia mendapatkan ilham agar mengibarkan kain hasil tenunannya ka arah timur.

Dari arah timur kain di kibarkan tiba-tiba bercahaya berwarna merah seperti cahaya matahari pertama kali muncul di pagi hari. Cerita sangkuriang.

Dengan serentak bangsa lelembut yang membantu pekerjaan Sangkuriang menghilang ke dalam tanah.

Mereka para bangsa lelembut mengira hari telah pagi.

Melihat hal itu Sangkuriang sangat murka. Danaunya hampir selesai namun pagi sudah tiba.

Dia malu sekali usahanya gagal. Padahal ia percaya sekali dengan kesaktian yang ia miliki.

Sangkuriang mengamuk. Kapal yang sudah jadi ia tendang dengan keras dan terbang melayang jauh dan jatuh menelungkup dalam sekejap berubah menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Sumbat yang di gunakan untuk membendung sungai citarum di buang kea rah timur menjadi Gunung Malangyang.

Akhir Cerita Sangkuriang

Sangkuriang yang mulai kalap segera berlari mengejar Dayang Sumbi.

“Dayang Sumbi apapun yang terjadi kau harus tetap manjadi istriku!” tertiaknya sambil berlari mengejar Dayang Sumbi. Cerita sangkuriang.

Dayang Sumbi segera berlari ke arah Gunung Putri.

Di tengah pelariannya ia memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar di selamatkan dari Sangkuriang.

Sang Hyang Tunggal mengabulkan permohonan Dayang Sumbi. Ia menghilang dan menjelma menjadi bunga jaksi.

Sangkuriang masih tidak percaya dirinya tidak bisa menangkap Dayang Sumbi yang berlari lebih pelan dari dirinya.

Dia terus mencarinya hingga ke Ujung Berung lalu dia tersesat di alam gaib. Cerita sangkuriang.

Baca Juga :

Pesan Moral dari Cerita Sangkuriang

Setelah kita membaca Cerita Sangkuriang dapat kita simpulkan beberapa hal yang bisa kita jadikan  pelajaran berharga.

  1. Kita harus menjaga baik-baik lisan kita. Salah ucap bisa mengakibatkan hal-hal fatal terjadi.
  2. Janganlah mencintai sesuatu dengan berlebihan. Karena hal yang berlebihan itu juga tidak baik.
  3. Jangan berbohong kepada orang tua.
  4. Belajar mengendalikan emosi.
  5. jangan menuruti hawa nafsu.

Mungkin hal-hal di atas adalah beberapa hal yang bisa kita jadikan pelajaran dari Cerita Sangkuriang.

Sekian dulu ya guys. Semoga dapat memberikan manfaat. Sampai bertemu lagi pada dongeng cerita rakyat Indonesia berikutnya. Cerita sangkuriang.

Asal Usul Reog Ponorogo

akmal daud
7 min read

Legenda Danau Toba

akmal daud
5 min read

Cerita Ande Ande Lumut

akmal daud
8 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.