You are currently viewing Panti Jompo

Panti Jompo

Seperti biasa, aku yang masih nggak ngapa-ngapain yang kebetulan sedang berlibur di Kota Malang, akhirnya ngikut adiku aja kemana dia pergi. Bosan sih di rumah ga kemana – kemana.

Kali ini adikku ngajak main ke sebuah tempat penampungan orang-orang tua. Sebut aja panti jompo. Aku nggak sempat tanya-tanya mau ada keperluan apa dia kesana.

Berjemur

unsplash.com     

Pagi itu kami disambut oleh mbah-mbah yang sudah berbaris di depan ruang kantor, ternyata aku dan adiku terlambat. Pukul 8 pagi seharusnya kami sudah sampai tapi memang kota ini terkenal dengan kemacetan paginya yang luar biasa.

“Mbah, kenapa pagi-pagi sudah duduk di sini?” sapa adiku. Mbah dengan kerudung biru hanya ternyata. Aku cuma memandangi.

“Biar anget nak.” Katanya, sambil menluruskan rambutnya yang sedikit kusut dengan jemarinya.

Di tempat ini dihuni sekitar 15 orang lansia, dan setiap pagi mereka akan “berjemur” untuk menghangatkan badan. Saat mereka berjemur aku mendekati salah seorang nenek dengan kerudung berwarna coklat tua, dengan bibir merah bergincu nenek itu tertawa kami sapa.

“Mana rumahnya?” tanya nenek itu.

“Kalimantan mbah.” Jawab adiku, di sebelahnya aku hanya senyum-senyum.

“Jauh ya, naik apa kesini.” Tanya nenek itu lagi.

“Naik pesawat mbah.” Jawabnya kembali.

“Berapa tiketnya.” Nenek ini sepertinya penasaran sekali. Aku jawab harganya setangah juta lebih seratus.

“Mahal ya.” Sautnya, kami hanya tertawa.

Nenek Bergincu Merah

unsplash.com

Gincu merah yang nenek pakai menarik perhatianku,

“Cantik ya mbah, pagi-pagi sudah pakai lipstick.” Nenek tadi tersenyum senang. Selang 5 menit nenek itu kembali bertanya.

“Mana rumahnya?” pertanyaan yang sama diulanginya kembali dan jawabanku pun masih sama. Ketika nenek tadi bertanya berapa uang harus ku keluarkan untuk membeli tiket pesawat dan tentunya jawabanku pun masih sama, 600 ribu kataku.

“Murah ya.” Ternyata jawabannya berbeda kali ini. Aku hanya tertawa melihatnya.

Menit berikutnya nenek tadi bertanya akan hal sama dan aku pun menjawab dengan sama pula tetapi saat aku jawab pertanyaan yang sama tentang harga tiket pesawat yang kubeli jawaban nenek itu kembali berubah.

“Wih, mahal banget.” Aku tertawa kembali berusaha memaklumi bahwa memang usia si nenek sudah tidak muda lagi.

Nenek Berkursi Roda

unsplash.com

Kami berpindah kearah nenek berkursi roda, tiga orang nenek terlihat tengah berbincang bersama. Aku berusaha berbaur dengan meraka, kutanya nama mereka satu persatu, asal mereka, dan pagi ini sarapan apa, terdengar basa-basi sekali memang tapi mereka memberikan jawaban yang ramah.

“Panas ya mbah?” tanya adiku melihat mereka mengusap keringat.

“Iya nduk, mbah mau kesitu.”Simbah berkursi roda memandani adiku. Sembari menunjuk tempat teduh di samping kamarnya. Aku membantu nenek-nenek tadi untuk berpindah tempat kemudian melanjutkan kembali perbincangan kami dengan mereka.

Aku berusaha melemparkan candaan dan mereka tertawa terbahak-bahak tanda mereka menerima candaanku. Masih dalam suasana canda, tiba-tiba nenek di samping kiriku menangis.

“Oi, kenapa mbah ini?”, bisiku ke adeku.

“Mbah kenapa? Kok nangis?” tanya adeku ke simbahnya.

“Ga nduk, mbah gak nangis.” Sahut nenek tadi.

Tiba-tiba pundakku ditepuk oleh nenek dengan baju biru, dia berbisik pelan kearahku.

“Mbahnya sendirian nduk, mas, gak ada anaknya. Mbahnya seneng kalo rame gini.” Jadi seperti itu, mungkin nenek tadi sudah begitu lama merasa kesepian.

Aku dan adiku memandang mbah tersebut dengan senyum, takut jika raut kesedihanku akan membuat nenek tadi terus menangis. Kami terus berusaha melemparkan candaan sembari bergantian memijit ketiga nenek tersebut.

Kami berusaha mencairkan suasana.Sekilas jadi terbayang wajah kakek dan nenek kami dari keluarga ayah yang sudah tiada.

Wejengan

unsplash.com

Tiba-tiba salah seorang nenek mencium pipi adikku, gemas katanya. Mereka memeluknya dan mengelus kepalanya. Aku senang melihat meraka menerima kami layaknya cucu sendiri. Aku hanya terpaku melihatnya.

“Nduk, sekarang sekolahnya yang pinter yo. Nanti selama kamu hidup kamu pasti bakal ketemu sama laki-laki yang sayang sama kamu.

Tapi yo jangan nikah dulu, kerja dulu ya, kasihan nanti orang tuamu momong cucunya nanti.” Aku hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih atas wejangan yang diberikan.

Salah seorang teman adiku kemudian datang. Terlambat batinku. Memang kondisi jalan raya hari sedang macet-macetnya.

“Maaf ya mas, jadi sampean yang nemenin zafira, harusnya saya”.

“Haha, ga papa mbak, saya lagi free juga”. ujarku.

“Mas, mas dia seumuranku loh”. bisik adiku ke aku.

“Bodoamat”. jawabku singkat. Adiku hanya tersenyum.

“Cantik nggak mas?”. Ujarnya lagi.

Ssst!”. Aku tidak menjawab, dan melengos pergi. Aku membiarkan adikku bersama temannya.

Saat itu teman adiku yang satunya dengan sopan menyalami penghuni panti satu persatu, namun salah seorang nenek dengan kerudung biru mengatupkan tangannya saat teman adiku berusaha menyalaminya.

Teman adiku  sejenak terlihat bingung tetapi kemudian melanjutkan untuk bersalaman dengan penghuni lain.

Rambut Sebahu berwarna pirang, celana jeans ketat, dan badan kurus tinggi. Aku hanya tersenyum, mbah tadi mengira teman adiku adalah lelaki mungkin.

“Mbah, dia perempuan kok.” Adiku berusaha menjelaskan.

“Loh iyo to? .” Temanku mendengar percakapan kami berdua kemudian tertawa.

“Saya perempuan mbah hehe.” Sautnya. Dia beralasan kota ini panas jadi lebih nyaman dengan potongan pendek.

Kunjungan Usai

unsplash.com

Matahari terasa lebih terik tanda bahwa waktu berjemur telah selasai. Kami kemudian membantu sebagian dari mereka untuk pindah ke kamar masing-masing setalah itu mengucapkan salam kepada mereka, pamit akan kembali ke kampus.

“Mau kemana?” tanya seseorang nenek.

“Mau balik ke sekolah mbah.” Kata adiku.

Nenek tadi melihatku dengan tatapan sedih, digenggam dan elusnya tangan adiku.

“Mau balik ke sekolah lagi.” Mungkin penghuni di sini merasa senang dengan kunjungan adiku bersama temannya dan merasa sedih dengan singkatnya waktu kunjugan kami.

“Iya mbah, kapan-kapan saya main kesini lagi.” Ucap adiku . Nenek tadi hanya mengangguk. Kemudian ia merogoh saku bajunya dan menaruh sesuatu ditangannys. Benda itu adalah permen jahe, baik sekali nenek ini pikirku.

“Buat sangu ya nduk.” Katanya sembari tersenyum. Mungkin ini hanya terlihat seperti permen jahe biasa, tapi nenek tadi pasti merasa senang dengan kunjungan kami dan berusaha memberi apa yang ia punya untuk menyenangkan kami kembali.

Nenek tadi melambai kearah kami tanda bahwa aku segera di suruh untuk pergi, takut terlambat ke sekolah katanya. Walau sangat disayangkan dengan kunjungan singkat ini, kami kemudian kembali pamit pulang sembari menyalami penghuni panti satu persatu.

Kami merasa berterimakasih atas wejangan yang telah mereka berikan. Sungguh pengalaman yang berarti.

Btw, kukira dulu panti jompo hanya ada di televisi. maksudnya aku nggak pernah berkunjung real ke tempat yang sebenarnya.

Aku berharap nanti kalo kedua orang tuaku sudah tua aku tidak ingin meletakan mereka di panti jompo. Aku ngelihatnya perasaanku jadi bercampur aduk.

Aku ingin memelihara mereka sebaik mungkin sebagai wujud rasa baktiku kepada mereka.

Tinggalkan Balasan

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.